BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Selasa, 10 Januari 2012

it's about RESPECT




Bulan mei 2010, saya ingat betul terhadap kesibukan yang sedang saya lakukan bersama teman-teman satu angkatan di Kampus, yaitu mengerjakan Skripsi. Saya berusaha mencari suatu permasalahan yang dapat dijadikan objek penelitian dalam skripsi saya. Sayangnya, saya telat untuk mengetahui kasus ini, saya baru membaca beritanya ketika skripsi sudah hampir selesai. Diantara kita pasti merinding membaca judul disertai foto diatas ( Ini saya dapatkan melalui suatu situs berita online -POSKOTA). Suatu kasus yang bukan hanya menyayat hati namun juga mengiris naluri. Bocah perempuan pengidap autis pasif di kurung hanya gara-gara sering merusak perabotan rumah. Saya rasa dibelahan dunia manapun tidak akan ada orangtua yang tega atau berbuat nekad untuk mengurung puterinya di dalam jeruji besi, apalagi mengetahui fakta bahwa anak tersebut mengidap autis. Peristiwa yang sangat menohok, suatu dilema di dalam negeri ramah tamah. 

Sementara kasus ini berlalu, ada hal lain di luar sana yang ingin saya kritisi. Penggunaan kata autis yang dibuat sebagai salah satu bentuk HUMOR. Ya, remaja atau siapapun itu, banyak yang menggunakan kata Autis sebagai bahan bercanda untuk mengatai temannya yang sedang sibuk sendiri sebagai autis. Atau malah menjuluki dirinya sendiri, bahkan sebagai nama album foto. Ironis sekali. 

dari semua tulisan ringan saya seperti diatas,saya hanya ingin mengingatkan kepada teman-teman untuk
STOP dalam menggunakan kata Autis sebagai bahan Humor!!!!!!!. Sama sekali tidak lucu. Kita semua sama, we were made by God. it's about Respect. Sejauh mana lo mencintai mereka, sedalam itu pula kau mencintai TUHAN.

Minggu, 08 Januari 2012

INDONESIAN and "ORIGINALITY"


Cantik, entah kapan terakhir saya meng-googling untuk mendapatkan makna secara harfiah dari kata "cantik" ini. Setiap orang bebas menafsirkan suatu hal, termasuk kata :cantik. Cantik itu abstrak, cantik itu relatif. Sama seperti seni, yang bisa dipandang dari berbagai sisi. Cantik tidak bersifat mutlak. Namun hal ini berbeda dengan kenyataan di peradaban ini.  Saya tidak ingin menulis hal yang berkaitan dengan SARA, karena saya sangat menjunjung tinggi nilai dan arti dari PERBEDAAN. 

Tidak mengherankan mengenai fenomena yang ada saat ini, ketika kita melihat generasi remaja (puber) terlihat sama. Sama, dalam artian cara dandan (bersolek), cara berpakaian, sama-sama bersikap lebih dewasa dibanding umurnya. Ya, semua terlihat sama secara keseluruhan . Kita lihat di mal-mal besar ibukota, pemandangan terlihat sama, remaja dan yang tua berpakaian sama. Semua hal yang sedang trend saat ini benar-benar diikuti secara serempak (contoh, gigi berbehel, gaya rambut belah tengah, suntik putih  Kehidupan instan dan dinamis, sambil membawa tas belanja bermerk dari luar)

 Ada apa dengan remaja saat ini?Tentunya mereka berhak untuk berkreasi terhadap gaya busana dan tata cara mereka berpenampilan. Namun apakah tidak terasa aneh ,saat mereka semua terasa sangat sama, bahkan terlihat homogen (tidak ada bedanya sama sekali). Pernyataan saya mungkin agak meyentil, namun hal ini benar-benar yang saya rasakan saat ini. Fashion begitu kuat, berarak dan melekat, sehingga bisa diibaratkan seperti perfum (eu de perfume) yang disemprotkan, sehingga bisa dengan mudah dhirup oleh siapa saja dan bertahan di penggunanya. 

Teknologi sangat canggih, sehingga kita dengan mudahnya mendapat informasi dari belahan dunia manapun. Termasuk mengenai fashion. Hal yang sangat saya sesalkan dari kemajuan teknologi yaitu timbulnya suatu paham dari segelintir orang tertentu yang memaknai kata "cantik". Mereka lalu memberikan ide advertorial yang tidak disadari menggeser pemaknaan kata cantik menjadi klasifikasi yang sempit makna

Ya, banyak kita lihat di iklan, cantik itu putih, cantik itu bertubuh langsing, cantik itu tidak berjerawat. Dan kasarnya lagi, mereka tidak segan-segan menggunakan model pembanding seperti, orang yang betubuh tambun, atau orang yang berkulit hitam , untuk memberikan point bahwa "yang putih itu loh yang cantik",  "yang kurus itu loh yang cantik". Hal seperti ini banyak dijumpai pada kehidupan nyata kita. Saya ingin sekali tahu, siapa orang atau market dibalik itu semua. Kita , anak bangsa, tentu tahu perbedaan adalah hal yang indah, kita Indonesia, terdiri dari ribuan pulau, kita anak-anak Indonesia yang dari dulu berperawakan beda, berwarna kulit beda. Bukankah seharusnya itu yang bisa kita gunakan untuk menyatukan kita. Bukannya  market tertentu yang kita banggakan, market tertentu yang mengartikan kata cantik dari sosok "barbie"buatan negara luar. Sungguh kita telah dihipnotis oleh peradaban luar. Saya tidak membicarakan mengenai "world need originality" karena jangkauannya terlalu luas.Dan saya sebagai salah satu anak bangsa yang tidak rela suatu market merubah paradigma kita, memutus tali kebersamaan hanya karena perbedaan fisik diantara kita. Itu hal yang menyakitkan, bukan?.

saya ingin sekali menepuk pundak teman-teman, agar kita semua bangun, dan lebih peka terhadap suatu market yang menggiring kita , CANTIK ITU ORIGINAL, ANUGERAH DAN MAHAKARYA. Kita bukanlah Barbie dan indonesian need ORIGINALITY. Be confident, Be original and BE YOU!!!

Saya hanya berharap suatu saat anak dan cucu saya bisa mendapat tempat yang menerima mereka seperti kedaan mereka sebenarnya. Manusia unik, anak-anak kecil yang lucu yang tidak ditempel baterai. Dan bersolek menjadi kegiatan lain dimana fokus utamanya: PENDIDIKAN .

SO,WHAT CAN I DO ?


Di pertengahan November tahun lalu (2011), negara kita dikejutkan oleh berita yang tidak menyenangkan. Penyiksaan sadis dan pembunuhan Orang utan. Dan sekali lagi, saya hanya bisa mendengar dan melihat hal tersebut dari kejauhan (media). Saya merasa janggal dan tidak bisa berbuat banyak atas hal tersebut. Dan memang karena tidak tahu harus melakukan apa. Saya merasa ada pihak yang lebih bertanggung jawab atas terjadinya hal ini dan mengusut nya sampai tuntas. Saya sering dilanda dilema, banyak hal terjadi disekitar saya, tanpa ada upaya apa-apa dari saya

Namun saya menolak bila dibilang apatis, karena pada kenyataannya pun banyak manusia yang merasa seperti saya. Dalam kondisi ingin menolong namun tidak tahu harus memulai dari mana dan harus berbuat apa. Seperti beberapa tahun lalu, saat saya masih aktif menjadi mahasiswa di Perguruan tinggi swasta, saya melihat adanya ketidakadilan dari korban lumpur lapindo. Saya hanya bisa meratapi dari jauh, teman-teman saya pun tidak bisa berbuat banyak. Hal ini hanya dibicarakan melalui materi-materi perkuliahan, tanpa adanya solusi nyata yang menghubungkan kita langsung dengan korban atau kejadian tersebut. Semua berlangsung sama dan lama, Ketika ada ketidakadilan terhadap para pengamen cilik (siswa SD) yang di penjarakan karena bermain judi-judian menggunakan uang ratusan perak . 

Selain itu, di wilayah lain, ada seorang nenek renta, yang dpenjara karena mencuri kakao.

 Lalu apa yang bisa saya perbuat? apa yang bisa teman-teman saya perbuat??

apakah hal ini akan terus-terusan hanya jadi bahan pembahasan pada materi perkuliahan? tanpa kita dididik untuk melakukan suatu revolusi penegakan keadilan hukum dan HAM atas kasus-kasus tersebut. Saya tidak mengerti, yang jelas saya  salut terhadap mahasiswa pejuang HAM yang berdemo di jalan. Mengkoordinasikan lapangan, serta Menyiapkan kobaran semangat di JIWA bahkan raga (semangat juang teman kita : RIP SONDANG).

Rabu, 04 Januari 2012





PERMAINAN TRADISIONAL






GENERASI ITU MASIH ADA

Wakwak gung nasinya nasi jagung lalapnya lalap kangkung...pit alaipit kuda lari kejepit...” tentu kita masih ingat penggalan lirik lagu tersebut. Ya, itu adalah lagu dari salah satu permainan tradisional di Indonesia. Selain dimainkan secara bersama-sama, permainan ini dapat mengembangkan kreatifitas serta memupuk kebersamaan dan solidaritas antar kawan. Berlari-lari dan tertawa, hal ini tergambar jelas  saat anak-anak bermain permainan tersebut.

 Namun saat ini, hal tersebut jarang ditemukan. Hampir sebagian besar anak-anak larut dalam kecanggihan teknologi. Mereka disuguhkan hal-hal menarik dari dunia maya yang justru lambat laun dapat mengikis kreatifitas mereka. Tidak hanya itu, kebiasaan anak- anak sekarang yang tidak lepas dari ponsel ataupun internet, dapat menimbulkan sikap ansos (anti sosial) yang tentu berdampak kurang baik dalam tumbuh kembang anak. Permainan portable salah satunya. Permainan praktis ini membuat anak tidak sadar dan tidak peduli dengan lingkungannya.  Kesenangan yang didapat dari permainan canggih semacam ini adalah kesenangan individual. Mereka asik sendiri terhadap dunianya. Tentu hal ini jauh berbeda apabila mereka bermain permainan tradisional. Selain memupuk  solidaritas antar kawan, tentunya anak-anak juga belajar  untuk melestarikan kebudayaan Indonesia, yatu permainan tradisional.  

Melihat realita yang ada, permainan tradisional sudah sangat langka.  Anak-anak Indonesia kini jarang ada yang memainkannya. Namun ternyata di perbatasan Kota Jakarta, anak-anak masih terlihat asik bermain permainan tradisional.  Ketika ditemui, anak-anak kecil yang tinggal di daerah Ciledug itu bekumpul dan tertawa sambil berlari-lari. Saat ditanyakan mengenai kesenangannya dalam bermain permainan tradisional, Denny bocah berusia 9 tahun menjawab, bahwa ia mengenal permainan tersebut dari ayah dan ibunya serta teman-teman di Sekolahnya. Ya, melestarikan permainan Tradisional adalah tanggung jawab kita bersama. Hal ini pun tidak lepas dari peran orangtua, dimana keluarga menjadi lingkungan primer yang mempengaruhi kepribadian dan tumbuh kembang anak. Dengan begitu, Indonesia tidak akan kehilangan generasi penerus permainan tradisional.


Selasa, 03 Januari 2012

Saya temukan catatan ini saat ku menganggur :)



lihat aku Mr. Susilo

Saya bukan tipe aktivis frontal yang menyerang birokrasi dengan segala argumen yang menyentil titik lemah birokrat untuk mendapatkan demokrasi yang nyata. 

Saya adalah manusia yang baru saja 2 bulan mengecap status sebagai pengangguran. ya...saya adalah pengangguran. Entah apa yang ada di benak saya, ketika 5 tahun lalu saya asik memakan bangku kuliah dan mendapati teman-teman yang bernasib seperti saya saat ini. Perasaan yang sangat menyiksa sekali. Saya hanya bertengger di depan laptop dan menaruh lamaran di perusahaan-perusahaan besar yang ada di negeri saya.

Lelah sekali, Anda harus baca ini pak susilo, "saya yang memilih anda waktu pilpres diselenggarakan. Saya yang menaruh gambar tempel seukuran kartu tanda penduduk berisikan foto anda di depan pagar rumah saya. Lalu bagaimana saya menghubungi anda, bertemu pun saya tidak pernah. Saya ingin anda tahu, rasanya menjadi pengangguran itu seperti ingin bunuh diri". Saya ingin ah..seandainya saja tidak ada kurikulum yang mengharuskan saya mencari kerja setelah lulus sekolah atau lulus kuliah.