PERMAINAN TRADISIONAL
GENERASI ITU MASIH ADA
”Wakwak gung nasinya nasi jagung lalapnya lalap kangkung...pit alaipit kuda lari kejepit...” tentu kita masih ingat penggalan lirik lagu tersebut. Ya, itu adalah lagu dari salah satu permainan tradisional di Indonesia. Selain dimainkan secara bersama-sama, permainan ini dapat mengembangkan kreatifitas serta memupuk kebersamaan dan solidaritas antar kawan. Berlari-lari dan tertawa, hal ini tergambar jelas saat anak-anak bermain permainan tersebut.
Namun saat ini, hal tersebut jarang ditemukan. Hampir sebagian besar anak-anak larut dalam kecanggihan teknologi. Mereka disuguhkan hal-hal menarik dari dunia maya yang justru lambat laun dapat mengikis kreatifitas mereka. Tidak hanya itu, kebiasaan anak- anak sekarang yang tidak lepas dari ponsel ataupun internet, dapat menimbulkan sikap ansos (anti sosial) yang tentu berdampak kurang baik dalam tumbuh kembang anak. Permainan portable salah satunya. Permainan praktis ini membuat anak tidak sadar dan tidak peduli dengan lingkungannya. Kesenangan yang didapat dari permainan canggih semacam ini adalah kesenangan individual. Mereka asik sendiri terhadap dunianya. Tentu hal ini jauh berbeda apabila mereka bermain permainan tradisional. Selain memupuk solidaritas antar kawan, tentunya anak-anak juga belajar untuk melestarikan kebudayaan Indonesia, yatu permainan tradisional.
Melihat realita yang ada, permainan tradisional sudah sangat langka. Anak-anak Indonesia kini jarang ada yang memainkannya. Namun ternyata di perbatasan Kota Jakarta, anak-anak masih terlihat asik bermain permainan tradisional. Ketika ditemui, anak-anak kecil yang tinggal di daerah Ciledug itu bekumpul dan tertawa sambil berlari-lari. Saat ditanyakan mengenai kesenangannya dalam bermain permainan tradisional, Denny bocah berusia 9 tahun menjawab, bahwa ia mengenal permainan tersebut dari ayah dan ibunya serta teman-teman di Sekolahnya. Ya, melestarikan permainan Tradisional adalah tanggung jawab kita bersama. Hal ini pun tidak lepas dari peran orangtua, dimana keluarga menjadi lingkungan primer yang mempengaruhi kepribadian dan tumbuh kembang anak. Dengan begitu, Indonesia tidak akan kehilangan generasi penerus permainan tradisional.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar